-->

Cinta Dengan Segala Risiko Terburuknya

Malam itu, entah karena angin apa, tiba-tiba saja aku rindu dengan satu kawanku. Sebut saja si Dani. Pria romantis yang bermimpi besar, membeli tiga helikopter salah satunya. Dari pada rindu tak terbalas, dengan berat hati kuputuskan untuk bermain ke rumahnya.

Di sana, di depan kampungnya terpampang sebuah poster dengan gambar orang memakai masker; "Selain warga dilarang masuk", ditambah dengan adanya penjagaan dari warga setempat untuk melakukan pemeriksaan KTP sebelum memasuki perkampungan tersebut. Kebetulan saja, meskipun aku tidak pintar bicara tetapi cukup pandai merayu, bisa lolos seleksi dari bapak-bapak yang berjaga waktu itu.

Di luar rumah Dani sudah terlihat Boges (Begitu sering disebut) satu lagi kawanku yang manis sedang asik "VCS-an" sama si Lady Rose, karena memang saat ini dia lagi berusaha mencari pengganti si Byson (Mantan pacarnya dulu yang nganu) jadi ya begitulah kesehariannya.

Obrolanku dengan si Dani sangat menarik. Ditemani dua cangkir kopi yang rasanya hmm, manis, sedikit pahit, kami pun berbagi cerita mulai dari kehidupan yang kelam hingga percintaan yang halu. Bagiku, itu adalah salah satu cara untuk merefleksikan pikiran di tengah musibah bersama yang mengguncang saat ini. Seandainya mungkin hal terburuk nanti terjadi padaku, setidaknya aku cukup siap untuk menghadapi semua. Karena memang bukan sekali ini aku merasakan pahitnya lika-liku kehidupan. Ah, kenapa jadi curhat. Haduh… Maaf!

Baiklah, dari obrolan kami ada satu hal yang menggetarkan hatiku seperti saat Doi bercerita tentang mantannya. Loh.. loh... Ketika Dani berbicara tentang satu nama, sebut saja si Nana. Aku tidak tau persis bagaimana si Nana. Bahkan, aku juga tidak tau seperti apa parasnya. Tetapi mendengar cerita si Dani, aku sudah bisa menggambarkan dia.

Jadi begini, dia si Nana dulu pertama kali dekat dengan Dani saat di mana Nana mengalami patah hati. Pertolongan pertama yang Dani lakukan adalah menghiburnya. Jelas, karena waktu itu Nana terlihat menangis, kata Dani. Seperti yang sudah kutulis di awal, Dani ini orang yang romantis, entah seperti apa cara dia menghibur Nana, tetapi aku bisa membayangkan. Kira-kira seperti ini; "Sudah ya, jangan nangis.. buat apa kamu menangisi dia yang sudah jelas membuatmu terluka" sambil mengelus-elus rambutnya dengan membawakan sebotol air mineral di tangan kirinya, hmmm.

Berawal dari ketulusan Dani yang sepertinya tanpa pamrih, perlahan Nana juga memberi harapan. Entah harapan palsu atau asli karena harapan cinta tidak bersertifikat MUI. Tak jarang mereka bertemu, saling sapa lewat WhatsApp juga hampir setiap hari. Tetapi seiring berjalanya waktu, Nana tampaknya tidak sesuai dengan angan-angan si Dani.

Sebelumnya, Dani sudah berterus terang tentang apa yang ia rasakan semua. Apa pun Dani lakukan untuk meyakinkan hati Nana. Termasuk bertemu dengan ibunya. Dari hal ini aku bisa menilai bahwa; dia si Nana memang masih ragu. Atau bisa jadi masih takut. Apa karena dia pernah terluka? Atau memang hanya sandiwaranya? Apa pun alasannya, semua itu menjadi persoalan bagi si Nana. Jika mungkin rasa kecewa karena kegagalan sebelumnya menjadi satu alasan untuk sulit membuka hatinya kembali, pertanyaannya cukup mudah; "Sampai kapan?" Dan, jika mungkin perasaan Nana bertolak dengan perasaan si Dani, satu kata yang bisa kuberi; "Pikirkan!" Karena bagiku, cinta memerlukan pemahaman dari hati, bukan hanya secara teori. Artinya, apabila seseorang sudah berkata jujur dan berani berterus terang, sudah membuktikan ini itu tidak hanya dari ucapan, apalagi hanya gombalan seperti si Buaya yang menghabiskan wanita sampai ke akar-akarnya; percaya atau percaya, dia sudah bersungguh-sungguh.

Oh iya, ada satu hal lain yang perlu diketahui. Saat kita melamar kerja, atau lebih tepatnya waktu interview, untuk meyakinkan HRD di sana kita hanya perlu berbicara. Tetapi, dia Pak HRD yang terhormat tidak tau bagaimana cara kita bekerja sebelum, kita diterima. Itu adalah salah satu contoh dari mana awal kita harus menilainya. Apalagi dia yang sudah melakukan apa pun yang seharusnya tidak perlu ia lakukan. Untuk apa? Jelas, dia sungguh mencintaimu, atau yang lebih dahsyatnya lagi, dia mau menikahimu.

Seandainya memang si Dani bukan tipe orang yang diinginkan Nana, semestinya dari awal dia mengatakan apa yang harus dikatakan. Bukan malah berdiam diri seakan memberi harapan yang tak jelas ujungnya. Jika sudah demikian, perlakuan Nana tidak pernah dibenarkan. Terlebih dalam hal ini menyangkut masa depan.

Dan sekarang, karena si Nana tidak pernah menanggapi keseriusannya, Dani pun akhirnya merelakan. Ia ingin berdamai dengan hati tanpa terkecuali. Apa lagi jika suatu pengorbanan yang Dani lakukan siang malam membebankan pikiran, bahkan ke tenaga tetapi tidak pernah ada nilainya, bagiku sih, itu malah terlihat seperti "Relawan" ada di saat di butuhkan, tidak ada di saat tidak ada apa-apa.

Surabaya, 2020



*) Tulisan ini dibuat dari curhatan seorang teman.

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar